Celotehan Masmus

Banjir Bengawan Solo

Desember 31, 2007 · & Komentar

Cukup dahsyat banjir di sepanjang sungai Bengawan Solo kali ini. Curah hujan yang begitu tinggi menyebabkan banjir dimana-mana. Tak tangung-tangung sepanjang aliran bengawan Solo terendam banjir bahkan hingga kedalaman 3 m. Mulai dari wilayah kota Solo, karanganyar, Sragen, Ngawi, Blora bagian Cepu, Kedungtuban, Bojonegoro, hingga Lamongan Jawa Timur. Luar biasa! Kejadian ini tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Banyak komentar menanggapi kejadian banjir ini. Ada yang karena pengrusakan lingkungan, penyalahgunaan tata guna lahan, atau bahkan murni curah hujan yang tinggi dan dalam waktu yang lama.  Ada pula yang mengatakan pembukaan pintu air di Waduk hgajah Mungkur Wonogiri. Apapun alasannya, banjir telah terjadi. Saya mengundang Anda untuk urun rembug tentang banjir yang selalu jadi problem di negeri kita. Bagimana pendapat Anda?

Kategori: Opini · Teknik Sipil
Ditandai: , , ,

12 tanggapan so far ↓

  • djunaedird // Januari 1, 2008 pada 5:16 pm | Balas

    Yang paling enak, menurut saya, tentu menyalahkan Pemerintah.
    Kenapa semua ini bisa terjadi?
    Karena tak pernah ada yang namanya manajemen bencana.
    Semua baru bergerak manakala semua sudah terjadi.
    Jadinya ya begitu itu… :P

  • amustofa // Januari 1, 2008 pada 9:39 pm | Balas

    Hahaha.. enak banget ya Pak. Kita juga heran bencana di negeri kita selalu silih berganti. Tapi kita selalu gak pernah bagaimana menanggulanginya. Banyak pakar komentar setelah bencana terjadi.

    Tahun 2002 lalu sewktu masih belajar, saya mengunjungi waduk Gajah Mungkur Wonogiri. Waduk yang direncanakan berumur 100 tahun itu ternyata baru 22 tahun sudah hampir penuh dengan endapan. Padahal prediksinya 100 tahun setelah dibangun. Tapi kok sudah penuh. Sehingga tidak bisa berfungsi maksimal untuk menampung air, karena kapasitas waduk berkurang karena pendangkalan.

    Dalam bayangan saya saat itu, kalau begini banjir besar swaktu-waktu akan mengancam Solo dan sekitarnya. Karena pembangunan Waduk ini salah satunya untuk menanggulangi banjir tahun 1965.

    Ya, betul dan mudah banget menyalahkan pemerintah. Sebagai warga negara yang baik Pembaca mungkin punya ide. Bagaimana nih Solusi untuk menanggulangi bencana banjir ini?

  • Isparmo // Januari 4, 2008 pada 1:39 pm | Balas

    Menurut saya, banjir ini memang kesalahan terbesar pada Pemerintah, walaupun masyarakat punya andil penyebab terjadinya bencana ini. Tetapi andil masyarakat itu terjadi karena Pemerintah tidak punya tindakan/sangsi tegas terhadap masyarakat yang menyalahi aturan. Lihat saja contohnya tentang pembalakkan hutan, yang paling mencolok kasusnya Adelin Lis, yang sudah merugikan negara sekitar 200 trilyun, ternyata masih bebas. Hampir semua aturan yang dibuat pemerintah akhirnya tinggal aturan saja hampir tidak ada penindakan tegas terhadap para pelanggarnya. Kenapa terjadi demikian, karena mental para penegak hukumnya masih kacau, saya sendiri under estimate kepada mereka terhadap penegakkan hukum di Indonesia.

  • jonidayat // Januari 21, 2008 pada 10:09 am | Balas

    Banjir adalah suatu keniscayaan.
    jika kita menempati dataran banjir maka suatu saat banjir itu akan datang, pasti. jika kita tidak ingin kebanjiran, ya jangan bermukim/ berusaha di dataran banjir.

    kita hanya bisa mengurangi peluang terjadinya dengan cara membangun prasarana pengendalian banjir. jadi jangan terkecoh dengan keberadaan tanggul, waduk dsb. mereka itu mempunyai kemampuan terbatas, suatu saat banjir akan melampauinya. kalau ternyata banjir itu datang, ya mengungsi saja.

    kita juga dapat mengurangi resiko kerugian akibat banjir dengan cara mengikuti prosedur siaga banjir yang dicanangkan oleh pemerintah. maka pada musim hujan ini selalu menyimak petunjuk dari pemerintah, tidak usah sok jago sok pintar dengan tutup telinga tutup mata tidak mengacuhkan informasi dari pemerintah.

    mus’s Respons: Betul Pak JoniDayat, tapi coba kita perhatikan kota Bojonegoro yang terhenti kegiatan penmerintahan selama berhari-hari. Ibu kota kabupaten lumpuh karena terendam banjir. Mereka kan di kota, gak bener2 di bantaran sungai. Banjir kali ini jadi pelajaran semua pihak, untuk introspeksi diri. Biar kita selalu siap dan siaga bila banjir datang. Begitu kan?

  • Mickel // Januari 21, 2008 pada 1:43 pm | Balas

    ga bisa kita salahin pemerintah, coba kalau anda yang jadi pemerintah.mungkin udah “lari”dengan dalih kunjungan kerja. banjir kali ini memang benar – benar pelajaran yang berharga bagi setiap pihak, apalagi warga yang bermukim atau beraktifitas dekat sungai atau yang berhubungan dengan waduk. kalo mereka tidak membangun rumah dekat daerah tersebut atau membuang sampah ke sungai ya tidak terjadi banjir. eh ngomong 2x, rumah pak waki walikota solo juga kena banjir kan?! kalo dia nyalahin siapa ya?!sadar bapak2X yang kirim email salahin pemerintah, udah tua tau malu ama anaknya kalo pikiran nya masih sempit.

  • reza // Januari 27, 2008 pada 2:03 pm | Balas

    wah telat gw kasi komentarnya,tp gpp..
    menurut saya, ni bukan salah pemerintah apa sapa kek, tp ni salah kita semua sebagai manusia yang kurang menjaga kelestarian lingkungan sekitar kita, banyaknya sampah-sampah di sungai,jg semakin menipisnya daerah resapan membuat sungai bengawan meluap jek..
    harusnya kita sebagai manusia mulai sadar bahwa kita sudah terlalu serakah dalam menggunakan/memakai SDA di sekitarkita..
    sebagai kaum muda saya juga perihatin atas banjir kemaren yang melumpuhkan hampir 60% kota solo..
    trimakasih

  • Cahyo // Februari 23, 2008 pada 6:00 pm | Balas

    Seediiiiiiiih…di rantau…kota kelahiranku semakin terbenam oleh keserakahan penghuninya….

    sampaikan salam buat Pak Walikota…5 tahun lagi kota solo tinggal kenangan….

    mus: Ya nggak gitu. mask tinggal kenangan to mas Cahyo. Justru kita-kita ini yang pernah tinggal dan singgah di Solo punya kenangan. Dan tak ingin hanya ktinggal kenangan.

  • Suka Sarana // Maret 12, 2008 pada 8:11 pm | Balas

    Banjir ?????
    Jelas yang salah pemerintah.
    Kenapa ??
    Goblog tuh pemerintah, gak mampu nyetop hujan. Pindahin dong tuh hujan ke laut, biar gak jadi bencana banjir di daratan.

    Kalau soal pohon ditebang sih, banyak tuh rakyat yang nyolongin hutan sejak dulu. Jaman nenek moyang, Wonogiri kan hutan. Makanya gak pernah banjir.

    Mo tau lagi? Bengawan Solo itu dulu mengalir ke laut selatan, bukan ke laut Jawa sekarang. Gak percaya? belajar dulu geologi.

    He, he, he, kalau ngawur jangan tanggung-tanggung dong.

  • Mas budi // April 22, 2008 pada 2:34 pm | Balas

    mentang mentang jadi rakyat, selalu ga mau disalahin…, alasannya sama ; buat cari makan! nebang hutan : buat cari makan, buang sampah sembarangan : pemerintah ga nyediain tempat sampah, dagang di tempat sembarangan : buat cari makan, digusur : pemerintah harus menyediakan tempat ganti…. alamak…. mental begini mana negara bisa maju, mental pengemis!

    katanya suara rakyat adalah suara tuhan, pasti benar… lha trus piye kalo rakyatnya maling semua? masih bisa dibilang suara rakyat suara tuhan??? mana ada tuhan maling???

    kita selalu melempar kesalahan pada orang lain kalo ada bencana, liat diri kita sendiri dong… buang sampah dah tertib belum? pake energi hemat ngga? (lha wong kita juga kalo kemana-mana pengennya naik motor, mobil, ngirit dikit kek!) pake air boros ga? suka berak di kali ga?…

  • ryan // November 30, 2008 pada 2:42 pm | Balas

    insyaf lah wahai anak manusi

  • dhios // Desember 19, 2008 pada 11:20 am | Balas

    wah….
    sedih juga yha jadi pemerintah… yang suruh ganti rugi… yang suruh mindahin ujan ke laut…. (gimana caranya yha????)
    kalo saya jadi pihak pemerintah pastinya saya juga kebingungan (untungsaya ga jadi pemerintah… hehehe)… banyak tindakan menuju perubahan… tentu saja tidak bisa instan… sedangkan banjir udah terjadi. padahal belum tentu itu kesalahan pemerintah yang sekarang. .
    mending yang harus berubah ya semua pihak deh… ga cuma pemerintah ajah, masyarakat perlu jadi lebih pinter juga so ga saling menyalahkan.

  • dwikurniawan7 // Februari 4, 2009 pada 9:24 pm | Balas

    banjir terus ni………………!

Tinggalkan sebuah Komentar