Celotehan Masmus

menggelorakan jiwa

Mblora Wis Udan!

with 6 comments

(Blora Sudah Hujan)

Berita gembira itu saya terima dari Emak saya di kampung halaman. Sebuah desa di pelosok kabupaten Blora. Kabar itu saya terima lewat ponsel yang kini makin populer sampai pelosok2 desa. Kata emak saya saat itu bapak dan adik saya sedang pergi ke tegalan untuk menanam cabai. Karena beberapa hari belakangan ini turun hujan, jadi harus cepat-cepat menanamnya.

Berita gembira?? Sebuah anugerah yang tiada tara. Musim kemarau yang panjang warga blora kesulitan air. Jangankan untuk sumur-sumur warga, sungai yang membelah desa saya pun kering. Hanya sumur-sumur tertentu di ujung desa yang ada air. Akibatnya harus antri cari air (ngangsu). Ngantri ngangsu sejak tengah malam hingga pagi.

Jadi pekerjaan utama sehari-hari bapak saya adalah ngangsu. Air ini tidak hanya untuk mandi-cuci, tapi juga untuk minum dan masak. Juga untuk memberi minum sapi-sapi kamidan memandikanya (ngguyang sapi). Sapi adalah hewan ternak utama warga2 di desaku.

Dan yang tak kalah menariknya adalah banyak orang-orang yang lalu lalang membawa jerigen2 di sepeda atau motor menuju ke sawah atau tegalan. Untuk apa gerangan. Untuk menyirami tanaman? Nggak mungkin. Ini kan musim kemarau! Mana ada tanaman di musim kering seperti ini?

Ternyata mereka mendatangi tempat penyemaian cabai. Mereka menyirami bibit cabai setiap hari. Bibit cabai ini dibesarkan dalam bedengan dan ditutupi bedeng setinggi 50 cm untuk melindungi dari angin dan terpaan terik matahari. Pokok’e kalau Anda dari desa pasti tahulah! Mereka hilir mudik setiap hari. Berdasarkan perkiraan musim, begitu turun hujan mereka sudah siap-siap memindahkan bibit ini ke galengan. Dan hujan beberapa hari kemarin adalah waktunya mereka menyamai bibit cabai tersebut sebagai tanaman musim laboh (pendahuluan) sebelum musim hujan datang untuk menanam padi.

Dengan turunnya hujan kemarin, saya berdoa semoga hujan yang membawa berkah. Sumur-sumur warga kembali ‘nyumber’. Gak perlu lagi ngangsu tengah malam dan jauh-jauh. Warga pun punya waktu ngurus sawah & tegalan mereka. Tanaman tumbuh subur. Blora yang konon panas, kering, panas, dan tandus berubah menjadi subur. Ku bersyukur kepada-Mu yaa Allah!

Bagaimanapun saya bangga dengan kampung dan tanah kelahiran saya. Di sanalah saya lahir dan dibesarkan. Mendapatkan kasih sayang dari orang-orang terkasih. Walaupun kini nun jauh dari sana, di Jakarta.

Written by mus

08/11/2007 pada 18:03

Ditulis dalam Curhat

6 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. aku yo pas ketigo (kemarau:red) wingi yo gaweanku mung ngangsu tok. ket jam 8 esuk nganti jam 12 awan mung ngangsuuuu terus. sampek rupaku koyok jerigen, ra karuan rupane. hehe neng saiki wes udan sawahku lemu, pariku lemu, sapiku wes ra ngelak meneh. matur nuwun gusti ALLAH.

    Suka

    sugikkkkkk

    26/12/2007 at 12:22

    • alhamdulillah mas sugik. Lha saiki wis ketigo (kemarau) maneh lho. Pas sasi pasa sisan..

      Suka

      mus

      30/07/2009 at 15:33

  2. oh iya bersyukurlah! saya selalu mnyadari bahwa anugerah Alloh begitu besar. Kita tak kan sanggup untuk menghitungnya.

    Suka

    amustofa

    11/12/2007 at 15:34

  3. iya mas mus, pernah saya mampir sekali ke blora brng a’yasir, trus disana di sambut sama mas Bayu himawan, di traktir. Sebelumnya, waktu dalam perjalanan, setiba di Blora, kami menyempatkan mampir ke pom bensin u/ sholat. Eh, ternyata kagak ada air, trus nglanjutin perjalanan saya banyak melihat warga ngangsu, “wah ada pengalaman berkesan di Blora, jadi sekemaraunya daerah saya (klaten) tidak sekemarau Blora yang saya tahu, bukan bermaksud membandingkan, tapi insyaallah jadi lebih mensyukuri.

    Suka

    poernomo

    11/12/2007 at 12:47

  4. terima kasih Pak!
    Salam kenal kembali Pak!
    Anda adalah orang pertama ngasih komment ke blog saya. Saya sempat lihat sekilas blog Bapak. Arsitek, yang begitu mencintai rumah dan tempat tinggal yang kita miliki menjadi nyaman dan aman!

    Suka

    amustofa

    09/11/2007 at 18:06

  5. Salam kenal Mas,
    Kadang terlintas, sepertinya sudah jauh entah kemana kita melangkah. Entah apa jua yang dicari.
    Dan ternyata hal- hal apapun berkenaan dengan tempat dan kehidupan darimana kita berasal menenangkan sekali dan membuat lebih nyaman.
    Salam,

    Suka

    rumahkayubekas

    09/11/2007 at 13:02


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: