Celotehan Masmus

menggelorakan jiwa

Jakarta Siaga Banjir 2008

with 5 comments

Musim hujan telah datang. Banjir menghadang.

Banjir merupakan masalah utama bagi warga ibu kota. Tiap tahun tidak bisa tidak Jakarta selalu menjadi langganan banjir. Kalau kita bandingkan wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) bengawan Solo yang kena banjir saat ini sangat beda dengan yang terjadi di Jakarta. Di DAS Bengawan Solo ini memang di luar dugaan karena sebelumnya jarang terjadi. Mungkin 15 tahunan. Tapi yang terjadi di Jakarta sebaliknya, tahunan. Bahkan tiap kali turun hujan besar bisa di pastikan ada daerah yang tergenang banjir.

Masalah banjir ini telah menjadi komoditi politik. Partai ataupun calon pejabat menggunakan isu banjir untuk menarik simpati warga. Mereka akan mengatasi banjir bila terpilih. Mask bisa? Yang bener? Warga paham betul, pemimpin silih berganti, nyatanya banjir terus terjadi. Banjir seperti sesuatu yang memang sulit dilepaskan dari kehidupan warga Jakarta.

Bukan hanya itu, banyak ilkan-iklan properti dan perumahan yang menyatakan bebas banjir. Seolah-olah dengan “embel-embel” bebas banjir menjadi senjata ampuh untuk promosi. Walaupun tidak jaminan daerah tersebut bebas banjir. Bila daerah tersebut bebas banjir tapi jalan penghubung terendam banjir pusing juga kan?

Banyak pakar hidro di negeri ini. Toh nyatanya sampai saat ini belum mampu menyelesaikan masalah ini. Kita turut mendukung usaha pemerintah untuk membangun banjir kanal timur. Namun itu tak menjamin Jakarta bebas banjir. Masalah ini cukup kompleks. Begitu sulit untuk mengurainya.

Karena penayalahgunaan tata lahan. Pemerintahlah yang paling bertanggung jawab. Ataupun komentar lain yang sering kita dengar. Saya bukanlah pakar banjir. Dan memang tidak paham tetek bengek tentang banjir. Jadi biarlah banjir terjadi. Dan memang akan dan telah terjadi. Sebagi bentuk kesiapsiagaan kita selalau waspada banjir. Menyiapkan segala sesuatunya untuk mengahadapi banjir. Biar kita merasa ringan mengahadapi banjir.

Ini bukan keputusasaan. Tapi usaha kita untuk tidak mengeluh dan menggerutu dengan keadaan. Tidak boleh tenggelam dan larut dengan kesedihan. Bangkit dan selalu siaga menghadapi banjir tahun 2008.

Written by mus

05/01/2008 pada 21:58

5 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. BANJIR MULU

    Suka

    Teguh W

    19/07/2009 at 11:42

  2. huh ga banget deh masa kyk bgini untung skarang gw di amrik

    Suka

    baba

    30/11/2008 at 21:17

  3. BANJIR SUDAH BERKALI-KALI MENYULITKAN KEADAAN PARA WARGA. DENGAN ITUPUN, KEADAAN INDONESIA SUDAH SANGAT TERDESAK. SEKARANG INI, PEMERINTAH PASTI SUDAH MENCOBA UNTUK MENGANTISIPASI DAN MENANGGULANGI HAL INI. NAMUN, BANJIR TETAP MELANDA INDONESIA. SEHARUSNYA, PEMERINTAH LEBIH MEMUTAR OTAK DAN MENGAJUKAN IDE-IDE WALAUPUN AKHIRNYA TIDAK SEMPURNA. TETAPI, WARGA JUGA WARUS IKUT MENGANTISIPASINYA. SEKIAN DAN TERIMA KASIH. BYE MY FANS. ALWAYS HOPE YOU. YOUR FANS

    Suka

  4. Begitu pesimisnya kita? Sehingga usaha apapun rasanya banjir tetap datang. Tetap setia menyambangi warga Jakarta. Dan benarkah kita pasrah dengan NASI SUDAH MANJADI BUBUR.

    Tapi kata Aa Gym, “kalau gitu buatlah bubur yang enak dan lezat”. Gimana ya caranya?

    Suka

    amustofa

    07/01/2008 at 23:05

  5. Ibaratnya nasib jakarta ini sama dengan pepatah kuno: SUDAH TERLANJUR SUDAH JADI BUBUR.
    Mau gimana lagi❓

    Suka

    djunaedird

    06/01/2008 at 03:58


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: