Celotehan Masmus

menggelorakan jiwa

Mengapa harus Jakarta

with 3 comments

Beberapa hari yang lalu saya mendapat pesan singkat dari seorang teman SMA. Biasa menanyakan kabar, pekerjaan, sudah menikah belum, anak dan sebagainya.

Ketika ditanya kerja di mana, dengan mantap saya jawab JAKARTA. Lho kok jauh-jauh amat, kenapa gak di sini-sini saja, membangun desa, membangun masyarakat. Atau ada pula adik kelas yang menanyakan kok sebagian “jagoan-jagoan” SMANSA Blora pada jaga ‘gawang’ JAKARTA? yang jaga ‘gawang’ desa siapa nih? Pertanyaan ini juga senada dengan guru saya sewktu SMP, Drs. Mahfudz ‘Ali Su’udi, “Mergawe kok adoh-adoh to Mus. Mbok golek ning kene-kene wae.”

Tidaklah pernah terbersit pun dalam bayangan saya bahwa nantinya saya kerja di Jakarta. Ya, Jakarta. Kota metropolitan, yang sebatas saya tahu dari TV atau cerita dari tetangga-tetangga saya yang jadi kuli bangunan di Jakarta. Mereka ke Jakarta ketika di kampung tidak ada pekerjaan karena sawah dan tegalan kering kerontang. Dan saat pulang kampung mereka saling bercerita tentang kota Jakarta. Itulah gambaran kota Jakarta. Mudah cari uang tapi membuangnya sangat mudah sekali.

Jakarta. Ya, inilah miniatur Indonesia. Segala macam suku ada di sini. Pusat pemerintahan, pusat perdagangan, pusat industri. Bahkan hampir sebagian besar perusahaan berkantor pusat di Jakarta, walaupun tempat usahanya di Cepu (Blora) atau bahkan di lepas pantai nun jauh seperti Natuna. Mall-mall bertebaran, pusat perbelanjaan, pusat hiburan terlengkap, dan gedung-gedung pencakar langit di mana-mana. Hampir tidak ada kota lain di Indonesia yang menyamai kota Jakarta. (cie sok tahu, emang sudah pernah survei kota-kota lainnya). Maka wajar saja, kalau Jakarta dan sekitarnya menjadi magnet yang luar biasa bagi siapa saja, termasuk para pekerja.

Saat pertama ke Jakarta pun karena ada panggilan tes kerja pada salah satu BUMN. Walaupun akhirnya tidak diterima. Alhamdulillah, selang lima hari berikutnya dapat tawaran kerja. Niat awal pun yang penting cari pengalaman hidup di Jakarta. Wajar karena Jakarta bukan impian. Jakarta yang permisif, individualis, nafsi-nafsi, macet, panas, sumpek, dan kumuh membenarkan pandangan saya dengan Jakarta. Dan saya merasa Jakarta bukan habitat saya. Saya hanyalah orang desa. Saya merasa nyaman hidup dengan suasana desa.

Tapi inilah kenyataan hidup. Saya harus menjalani hidup dan bekerja di Jakarta. Betapa sulitnya mencari kerja di daerah. Kalau mudah, tentu tidak banyak teman-teman kita yang jauh-jauh datang ke Jakarta untuk menjadi buruh pabrik atau pembantu rumah tangga. Atau seperti tetangga-tetangga saya yang jadi kuli bangunan di Jakarta karena proyek-proyek di Jakarta lebih banyak dibanding di daerah.

Inilah potret negeri ini. Otonomi daerah yang salah satu tujuannya adalah untuk memajukan daerah, kenyataannya masih jauh dari harapan. Semua fasilitas dan kemudahan masih terpusat di kota-kota besar terutama Jakarta. Maka wajar saja kalau Jakarta selalu menjadi daya tarik yang luar biasa bagi mereka-mereka dari daerah. Hal ini menjadi PR kita bersama.

kbu, 05 Jan 09
masmus

Written by mus

05/01/2009 pada 00:42

Ditulis dalam Blora, Sosial budaya

Tagged with ,

3 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. @poer: Wuih, cerdas itu Bro…. Mimpi kita bersama… untuk membangun daerah kita… yang telah menempa kita dengan keadaan alamnya

    Walau kini kita di rantau.. mudah-mudahan kita tetap peduli dengan tanah kelahiran kita, tetangga kita, dan sanak saudara kita ya Bro..

    @kangsurur: Sebetulnya daerah juga kaya sumber daya alam. Tetapi sampai saat ini pengelolaannya masih terpusat di Jakarta. Salam.

    Suka

    mus

    08/05/2009 at 20:19

  2. Nah, kalo berpikir agak radikal sedikit, pindahkan aja kota jakarta ke Blora. Wah gimana caranya!

    Jangan salah, tidak hanya jakarta korea, arab saudi atau negeri seberang lainnya juga dilakoni demi mengais rejeki.

    bagaimanapun itulah Indonesia, masih banyak pemikir canggih dan tangan trampil untuk mengolahnya!

    Suka

    kangsurur

    16/01/2009 at 14:17

  3. bukan PR kita kelihatannya mas, lebih tepatnya mimpi kita membuat lapangan kerja,
    itu PR bagi anggota dewan saat ini, in my opinion lho ya…,
    wah salut sama masmus tetep eksis.

    Suka

    poer

    05/01/2009 at 23:49


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: