Celotehan Masmus

menggelorakan jiwa

Apa yang Kita Punyai itu Bukan Milik Kita

with 4 comments

Pagi ini saya sampai Purwodadi, tempat di mana bapak kami dirawat karena kecelakaan. Telapak kaki bapak kami tertindih pintu minibus yang ditumpanginya yang terguling. Di antara penumpang bus yg parah kernet dan bapak kami. Tulang retak, kulit dan daging terkelupas. Dan mungkin yang agak mengkhawatirkan agak terlambat dioperasi. Kecelakaan Ahad pukul 7 malam dan baru operasi Senin pukul 3 sore. Maklum ada pasien lain yang kondisinya lebih parah, sehingga penanganan lebih dahulu.

Kami bersedih dan berusaha untuk tabah. Baru beberapa hari yang lalu Bapak menelepon saya agar akhir Juni untuk pulang kampung. Kata bapak, beliau ingin mengadakan tasyakuran. Tasyakuran setelah adik saya sembuh setelah sakit hampir 2,5 bulan. Juga anak adik saya (keponakan) yang kini sehat kembali. Bapak ingin kami berkumpul saat acara tasyakuran, termasuk saya yang kini merantau di Jakarta.

Seingat saya baru kali ini bapak kami dirawat di rumah sakit. Ya kami hanya orang desa. Paling sering sakit kami flu atau masuk angin. Biarpun hidup kami berkubang dengan lumpur sawah dan kotoran sapi.

Saya pun sadar bahwa semua yang kita punyai adalah titipan dari Allah. Raga kita, harta kita, apapun yang kita anggap milik kita sebernya hanyalah titipan. Yang namanya titipan sewaktu2 dapat diambil pemiliknya.

Di rumah sakit ini akhirnya saya sadar, masih banyak orang lain menerima cobaan yang lebih berat. Kami hanya mendapat ujian kecil. Tak perlu terlalu sedih. Semua ini atas kehendak-Nya.

Bapak, biasanya kami-kami ini anakmu yang mendapat belaian kasihmu saat kami sakit dengan senyum dan cinta hangatmu. Kini panjenengan merintih menahan sakit. Kami hanya berdoa semoga Bapak kuat dan sabar menerima ujian ini, serta segera diberi kesembuhan. Dan kembali bisa mengimami sholat di musholla kami.

Purwodadi, via N2610
[A Mustofa Rusdi]

Written by mus

09/06/2009 pada 11:18

Ditulis dalam Curhat, Motivasi

Tagged with , ,

4 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Setelah membaca tulisan ini dan membaca comment dari Zaynab El Fikr, mengingatkan saya pada cerita yang baru saya baca. Judul novel yang saya baca adalah Bidadari-Bidadari Surga, penulisnya Tere-liye. Bedanya yang sakit adalah Kakak tertua yang selalu tegar dan tidak mau terlihat bersedih didepan Mamak ataupun adik2nya….bahkan ketika kanker itu sudah mencapai stadium 4. Tapi itu hanya di novel, meski ruh novel itu sangat kuat seperti real story. Ceritanya sangat mengharukan, sangat keluarga sekali.
    Semoga njenengan juga kuat..maksud saya, ketegaran orang-orang dekat, akan membuat tegar pula orang yang sedang sakit.
    Mungkin comment saya lumayan telat, tapi tak apalah…
    Sesibuk-sibuknya kita, sepadat-padatnya pekerjaan, atau jam terbang yang tinggi semoga membawa berkah, bukan hanya untuk kita, tapi juga untuk keluarga kita…harus itu..meski hanya sekedar sms dan bertanya”pripun Pak, sukunipun(baca : kaki dalam kromo inggil)?” atau sekedar sms “Bu, kulo kangen sayur bayem kalih sambel tempe damelanipun ibu. hehe” (kalo yang ini biasa sy kirim ke ibuk…hehehe.kok jadi saya ya…), dst.
    Bagaimanapun Bapak, Ibu, adik, Kakak, dan keluarga adalah anugerah terindah yang Alloh beri untuk kita….. ^_^
    Allohummaghfirli waliwalidayyah warkham humma kamaa robbayaani shoghiroo. Amin

    Suka

    norma

    07/07/2009 at 17:01

    • Matur nuwun mbak Norma donganipun.
      Sungguh besar hikmah di balik ini semua kejadian ini. Sungguh Alloh sangat mencintai kami.

      Suka

      mus

      08/07/2009 at 12:53

  2. Begitulah cara Allah mencintai kita. Bila di mata-Nya kita layak naik kelas, sudah bisa dipastikan itu karena ada ujian2 yang telah mampu kita selesaikan dengan baik dan benar. Untuk Bapak yang sedang terbaring di rumah sakit, Allah telah memilih beliau juga orang2 tercinta beliau untuk menerima ujian ini. Yah, kalian adalah orang2 yang terpilih karena kalian adalah orang yang tangguh maka Allah memilih kalian.

    Sekedar mengingat bersama, bahwa dalam hidup ini hanya ada 2 macam ujian yaitu SABAR dan SYUKUR.

    Smoga Allah selalu memberi yang terbaik untuk kita semua, dan smoga Bapak segera sembuh dari sakit yang ditanggungnya. Do’a adalah bagian dari ikhtiar yang tak dapat dipisahkan. Tetaplah yakin kawan, bahwa dalam setiap helaan nafas kita selalu ada harapan…

    Innallaha ma’ana.

    Suka

    Zaynab El Fikr

    11/06/2009 at 21:29

    • @Zaynab El Fikr: Terima kasih atas doanya. Saya secara pribadi melihat ketabahan yang luar biasa pada bapak kami. Saya tidak melihat kalau beliau merasa sakit. Beliau ikhlas dan menerimanya semua, bahwa semua ini adalah takdir Allah yang harus dijalani. Bahkan bicara dan bercanda seperti orang sehat lainnya.

      Justru saya dan anggota keluarga lain yang nampak bersedih. Karena saya melihat ibu jari kaki bapak sudah menghitam, menandakan kalau pembuluh darah sudah tidak berfungsi. Dan kemungkinan terbesar adalah diamputasi.

      Semua adalah milik Allah dan kepada-Nya lah kita akan kembali.

      Suka

      mus

      13/06/2009 at 10:48


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: